Seiring dengan perkembangan teknologi dan peradaban manusia, penggunaan serat ABACA tidak lagi terbatas sebagai tali tambang kapal atau bahan pakaian. Richmond (1907) memulai penelitian penggunaan ABACA sebagai bahan baku pulp/kertas.

Selanjutnya kertas berbahan baku serat ABACA semakin diakui reputasinya sebagai kertas yang berkekuatan tinggi. Saat ini kertas berbahan baku serat ABACA telah menjadi bahan penting untuk pembuatan tea bag, document paper, pembungkus daging, isolator, pembungkus kabel bawah laut dan berbagai produk hasil kerajinan tangan.
 
Saat ini kebutuhan serat ABACA dipasok oleh dua negara produsen utama, yaitu Filipina dan Ekuador dengan jumlah pasokan setiap tahun masing-masing 80.000 ton dan 20.000 ton. Kebutuhan serat ABACA dunia diperkirakan 200.000 ton per tahun dengan pertumbuhan minimal 5% per tahun, sehingga paling tidak terdapat kekurangan pasokan sebanyak 100.000 ton per tahun.

Pasokan serat ABACA dari dua negara produsen utama tersebut juga diperkirakan akan semakin menurun akibat adanya ganguan alam berupa angin typoon yang merusak perkebunan ABACA dan serangan penyakit virus khususnya
di negara Filipina. Adanya kendala budidaya ABACA di kedua negara produsen utama ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengisi kekurangan pasokan serat ABACA di pasar dunia.
 
 
     
Wisma Perkasa, Buncit Raya 21 - Jakarta 12510, Ph +62 21 7987333, F +62 21 7902773 - bhuinfo@bumindo.co.id